Google Drive and DropBox

Lagi enek sama kampanye yang makin aneh-aneh, saya iseng banget untuk menyatakan kekaguman saya sama dua aplikasi di atas. Hahaha, gak penting ya…

Tapi ini beberapa hal yang saya suka ya:

1. Sinkronisasi dengan Explorer yang menurut saya sangat penting, jadi kita kayak kerja di folder biasa kita aja, terus buka filenya dan save, baru pas ada koneksi ke internet, filenya terupdate dengan file terakhir yang kita modifikasi. Jadi nggak perlu lagi tuh log-in dulu ke websitenya, unduh dan lain sebagainya (buat saya yang praktis dan sering lupa password tentunya sangat membantu)

2. Sharing folder, ini juga keren bingits, saya biasanya kerja bareng tim, dan daripada kirim-kiriman email dan musti unggah-unduh, mending disini deh, jadi kita langsung bisa update dan tahu terakhir update darimana, tinggal buka dan baca lagi.

3. Oh ya….kalo dropbox juga ada notifikasinya kalo ada file-file baru yang diupdate, kalo google drive nggak…, keren kan…tapi google punya fitur google calendar yang bisa sync sama gadget kita juga.

4. Terakhir, jadi nggak makan memory kita, kan semuanya disimpan di cloud, google dan dropbox šŸ˜€

Saya benar-benar termanjakan dengan teknologi ya…kalau Anda? šŸ˜›

 

 

Say it with XBRL

XBRL atauĀ eXtensibleĀ BusinessĀ ReportingĀ Language, adalah satu keluarga denganXML, bahasa yang digunakan untuk komunikasi elektronis data keuangan, dimana merupakan langkah revolusioner dari pelaporan keuangan saat ini. Hari terakhir kunjungan kami di Jepang memang sengaja untuk porsi ini? Kenapa?

Saat ini BI dalam menjalankan tugasnya sebagai bank sentral meminta lembaga keuangan untuk melaporkan data-data yang dibutuhkan secara reguler. Dan dalam rangka melakukan pembenahan sistem pelaporan, maka XBRL menjadi solusi. Nah, Bank of Japan sudah mulai menggunakan XBRL sejak 1o tahun lalu. Pertemuan BI untuk membahas mengenai XBRL dilakukan 3 sesi, sesi pertama dengan direktur eksekutifnya yang bla-bla high level banget dan bilang: yes, we are using XBRL and we are happy with that.Ā Sesi kedua sudah mulai agak sedikit teknis, dan masih dipimpin oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia. Pertanyaan pamungkas pada sesi pertama pertemuan adalah: What made you choose XBRL ten years ago, meant at that time technology just very limited. Dan jawabannya: we absolutely need that. Mr. Hideo Kamioka, Director of XBRL adalah project manager dari implementasi XBRL ini. Dia bilang pada saat itu dia butuh satu sistem pelaporan, dan dia menemukan XBRL sebagai solusi, dan dia presentasi pada Board of Governor. Uniknya alih-alih dia yang presentasi, Gubernur Bank of Japan saat itu yang punya latar belakang Teknologi Informasi malah yang bersemangat, dan dia yang lebih banyak menjelaskan mengenai XBRL ini. Jadi sesi presentasi malah Gubernurnya.


10 tahun yang lalu, the journey had begun at Bank of Japan. Tentunya ada beberapa tahapan, tahapan pertama adalah persiapan dan juga uji coba yang berlangsung selama dua tahun dari 2003-2005. Yang menariknya, karena bahasa Jepang, jadi taxonomy yang dibuat oleh BoJ, adalah customized untuk Jepang. Ā Kurang lebih sama dengan BI ya….Namun mereka mulai dari yang annual report dan kemudian semi-annual, nah ini yang tantangannya lebih berat di BI. Strategi implementasinya BoJ menyediakan converter untuk masing-masing institusi keuangan, nah, strategi ini masih mereka gunakan sampai dengan saat ini. Alasannya sederhana, value yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan hanya mensubsidi converter ke institusi keuangan (FI) tersebut.
Satu hal penting bahwa, di Jepang ada BoJ dan ada juga FSA (OJK di Indonesia), FI melaporkan Ā ke BoJ dan FSAnya. Mereka meminta Bank yang memilikiĀ accountĀ di BoJ untuk menandatangani MoU sehingga masih tetap lapor Ā ke BoJ. Pintu masuk ini bisa melalui keanggotaan FI di RTGS misalnya (quite simple dan bisa dipikirkan untuk ditiru ya). Tapi informasi yang diminta oleh FSA sama dengan yang diminta oleh Bank Sentral, sudah ada kesepakatan mengenai informasi apa saja yang harus dilaporkan FI.

Kalau ada perubahan dari FSA, BoJ tinggal unggah di web perubahan versi XBRL-nya dan kemudian FI tinggal unduh deh, simple kan. Satu lagi, FSA-nya ini belum XBRL dan masih excel lama, katanya sih karena data base teknologi mereka juga belum bisa mengakomodasi XBRL.

Saat ini sudah tahun kesepuluh dari penerapan XBRL di BoJ, dan kata mereka we have yet to reap our harvest. Di awal implementasi di sisi FI kurang lebih tidak terlalu sulit, karena mereka mengolah data dengan sistem yang ada dan kemudian dikonversi dengan XBRL Converter. Di sisi BoJ malah yang ada challenges, misalnya lama, dan seperti lagu biasa, implementasi kurang sesuai dengan requirement-nya. Penyempurnaan pasti akan terus dilakukan, dan saat ini mereka sudah ada di tahap ketiga dan mau ekspansi ke BPR, istilahnya shinkin bankĀ , dari 570 institusi dan diperkirakan tahun ini akan mencapai 800 institusi. Arsitektur di belakang untuk pengolahan datanya kurang lebih sama, walaupun mereka belum memiliki Datawarehouse, dan sedang berpikir untuk menggunakan DW.

Awal-awal kata mereka ada kelemahan yang terjadi, misalnya waktu proses yang lama sehingga perlu difine-tuning. Satu hal penutup, sekarang yang menangani XBRL hanya 2 orang saja, dan mereka bekerja kalau ada perubahan Ā di taxonomiesnya. Efisien ya, orang Jepang šŸ™‚

Buat tim yang sedang bergelut, Gambatte… !!!