Horeee… Jakarta Punya MRT (2019)

Setelah sekian lama rame dibahas di WA Group , akhirnya…20 April kemarin, kami dapat kesempatan juga buat ngunjungin MRT Site, yang katanya 16m di bawah tanah..Awalnya ragu, mau ikutan apa nggak, tapi karena siang hari dan hanya 2,5 jam…apalagi pas ada teaser kalau kita akan jadi rombongan pertama pasca pemilihan Gub DKI (membuktikan, siapapun Gub-nya, proyek pembangunan Insya Allah berjalan lancar); ada teaser lagi… siap-siap dada berdegup kencang, saking bangganya Jakarta akan punya MRT… Baiklah, kayaknya kesempatan ini gak mungkin saya lewatkan … To some reason meeting this bunch of people always brings positive energy

Dan…., here we are…meeting point kita di lobby Menara Nusantara, a nice chit chat and a good coffee are always great companion (sumpah, kopi di lobby Menara Nusantara itu enak banget…., hmmmhhhh, nulisnya sambil bayangin, tengkyuh Mbak Miki traktirannya). Chit chat seru update A di B, B di C.. sampai pemilihan kuliah anak, kesuksesan TimSes OKe-OCe, dan ada yang sengaja dateng dari Manilla, memang selalu menyenangkan….

Pas jam 1.30 kita naik ke lantai 21 untuk briefing…, dan datanglah Sang Direktur Operasional, yang makasih banget udah nemenin kita sesiang itu… You Go Gung…proud to be your friend, udah dibilangin sebagian niat kedatangan gue hari itu kan bukan hanya mau lihat site MRT, tapi mau ketemu Pak Direktur juga…. Pak Direktur pun menjelaskan konsep MRT: Moving Towards Better Jakarta (sumpah dijelasin aja, udah bangga banget). Pengalaman kita semua melihat MRT di negeri Singa belasan tahun yang lalu itu, ternyata akan terwujud di Jakarta pada tahun 2019. Lama ya….? dan kita yang terakhir dari The BIG 5, ASEAN Countries yang punya MRT. Tapi ya sudahlah, akhirnya mimpi yang belasan tahun lalu hanya bisa dibayangkan sekarang akan menjadi kenyataan. (I cross my finger for this karya anak bangsa, yang gak usahlah ya diganggu-ganggu info gak penting). Proses penyiapannya sudah berjalan 60%, termasuk penyiapan SDM-nya yang mengharuskan belajar ke negeri yang udah maju dengan MRT-nya… Oh iyah…saya baru tahu, kalau PT MRT ini adalah BUMD, prosesnya berjalan sudah sangat lama, tapi bergerak maju dan menjadi program prioritas Pemda DKI pada saat Jokowi jadi Gubernur. Proses groundbreakingnya dilakukan pada masa kepemimpinan Ahok, ketika seluruh kontrak dengan pihak kontraktor sudah ditandatangani pada tahun 2014. Tambahan info direksinya rata-rata angkatan 90-2000an dengan sebagian pekerja adalah Gen Millenials, can you imagine!!!

Selesai briefing singkat, kita menuju ke… site MRT-nya…caranya naik ke Jembatan Penyebrangan persis di depan Menara Nusantara, dan di tengahnya belok ke kanan untuk menuju site di kedalaman 16m. Di site ini kita harus ganti sepatu, pake rompi dan pake topi pengaman… Dan proses eksplorasi site MRT ini pun dimulai…, siap-siap turun tangga ya, dan nanti naik tangga lagi :P:

Panas gak di bawah tanah…? Banget, tapi saya gak sesek napas, mungkin karena saya terlalu bangga kalau Jakarta akan punya MRT… Menyaksikan proses penyiapannya di dalam tunnel membuat saya yakin mimpi ini akan segera menjadi kenyataan.

Saat ini kolaborasi dengan berbagai mitra juga sudah mulai dijalankan, salah satunya dengan PLN untuk menjamin pasokan listrik, dengan penyedia layanan seluler, biar gak mati gaya kalau di terowongan …dan even dengan mall sekitaran, wihhh nanti kayak di Scott Road, Kakak. Uts…, jangan salah nama-nama untuk di tiap stasiun juga menjadi bagian dari skema kerjasama…. (pengen namanya jadi salah satu stasiun…, kontak PT MRT ya, hehehe). Saya juga titip pesan,…nanti pembayarannya Non Tunai ya(utss…iyah katanya, tapi mau pake standar yang cepat….)

Let the pictures talk….sebagai warga negara Indonesia, saya bangga dan berharap mimpi kita semua akan terwujud…untuk yang terlibat dalam proses ini…. I pray for your success and health, selamat telah menjadi bagian dari sebuah sejarah!!!

There is no greater reward, than working from your heart, and making a difference in the world (Santana)

Conversation with God

(A self note and self reflection)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. ” (QS.Al-Baqarah, 2:155-156)

Entah apa yang terjadi di tahun 2015 ini, rasanya baru sebulan saja si whitey tabrakan, dengan hasil ganti rugi total loss. Alhamdulillah, saya memang begitu dimudahkan dalam pengurusan total loss ini, hanya berjarak 3 hari dari polis asuransi diterbitkan. Mungkin karena banyaknya kemudahan itu, Yang Maha Kuasa kembali memberikan ujianNya.

Entah apa yang terjadi, saya yang paling anti Rumah Sakit, bahkan anti ke dokter (saya adalah peminum obat-obatan tradisional). Pilek saya hajar pakai air lemon, air kunyit, batuk saya minum air jahe, dlsb. Saya hanya masuk RS ketika melahirkan, itu pun tanpa kamar operasi. Kadang, alam bawah sadar, suka mikir, gimana ya rasanya masuk RS dan ditengok #heughhh. Ya, saya kejengklik pada tanggal 9 Desember 2015, yang saya pikir hanya kejengklik biasa, dan membuat saya mau berdiri sendiri, tapi setelah saya lihat, ke bawah, posisi tulang angkle kanan saya  sudah keluar ke kiri dan menonjol, sementara telapak kaki saya sudah tidak berbentuk. Astaghfirullah, subhanallah, entah apa yang terjadi, yang jelas sepatu saya masih melekat manis di kaki saya, dengan heels yang menancap manis di pavinblock. Sering kan,kalau kita jalan, heels menancapnancap di pavinblock. Tapi, yang ada di pikiran saya adalah kejengklik biasa dan bukan dislokasi atau patah tulang. Apa saya terlalu gemuk ya? (FYI, sepatu itu sudah saya buang dengan sukseus).

Malam itu juga saya dibawa ke rumah sakit, iya ke rumah sakit, dan tepat pada waktu itu juga diputuskan untuk melakukan tindakan operasi. Iya, operasi, subhanallah, astaghfirullah, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk operasi. Tidak pernah, saya pun langsung merengek meminta dibawa ke alternatif, entahlah apa namanya, Cimande, H. Naim, RajaSinga, atau apapun, rasanya  ada petir menyambar, tapi yaaa mau gimana lagi. There is always be first time for everything, but subhanallah a first time for surgery…(never crossed in my mind).

Saya pun hanya bisa pasrah mengikuti semua urutan pemeriksaan dan persiapan operasi, akhirnya saya minta obat tidur, bukan apaapa, saya memang sedang mengidap insomnia belakangan ini, susah tidur….

Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan, dan itulah pembelajaran utama saya. Saya yang sudah punya sejuta rencana, ke Yogya hari Jumat malam, jadi MC akhir tahun di museum, liburan Natal ke Bandung, bahkan sampai liburan Februari.., terpaksa mengigit jari, dan membiarkan semuanya menjadi rencana indah…

Saya yang biasa menjadi bola bekel pun, saat ini harus menjadi anak manis, duduk di kursi kantor, bahkan menggunakan kursi roda untuk naik-turun lift (ini memang agak drama, tapi daripada saya kenapa-napa kan). Saya yang biasanya harus dadah-dadah sama suami dan anakanak untuk dinas, sekarang pun jadi mendadahi mereka yang pergi ke Bandung untuk acara keluarga. Saya yang biasanya susah ngangkat telepon, kalau si kembar nelepon, sekarang kebalikannya, hahaha. Saya gak pernah loh, sepanjang sejarah karir, dimanapun berada, tidak masuk kantor selama 7 HK (pernah sih pas kawinan sama pas Papa meninggal ya kayaknya, artinya lebih dari 10 tahun lalu).

Above all, si kembarpun bahagia ketika saya ada di rumah full selama 5 hari kerja. Katanya belum pernah saya selama itu di rumah  tanpa bekerja (wahhhh, toyoran buat diri saya). Si kembar pun jadi teman bermain saya dan asisten saya, kata mereka, biasanya saya yang ngurus mereka, sekarang mereka mengurus saya (how sweet).

Masih banyak lagi pembelajaran saya, padahal selama beberapa bulan terakhir, saya sudah tidak meminta yang lain, selain keselamatan dan kesehatan untuk saya dan keluarga. Semua rasanya cukup, toh kami bisa hidup dengan cukup, bisa mensekolahkan anak, yaaa, kalau tahun depan harus sekolah yg lebih, ada caranya, bisa liburan juga. Semua, Alhamdulillah…, oleh karena itu, saya hanya minta sehat dan selamat. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan.

Tapi mungkin ini caranya Tuhan memberikan kesehatan untuk saya, saya disuruh merem aktivitas yang akhirakhir ini memang menyita waktu…., kecapean tepatnya. Masih terngiang katakata Ibu saya yang sering diucapkan ke adikadik saya: Kakak kamu itu terlalu rajin!!! Padahal sih, saya bukan kerajinan juga, tapi di institusi tempat saya kerja sekarang, tidak ada istilah hari libur. Kerjaa terus, dan  entah gimana, tempat saya itu juga yang kerja lemburnya menggila (ya naseeebbb)…

Berasa banget gak bisa kemanamana ya, tapi rasanya terlalu cengeng kalau saya menjadi  putus asa. Saya baru baca blog seorang Ibu yang membesarkan anaknya selama lima tahun dan memiliki cerebal palsy, dan juga berjuang melahirkan anaknya, sampai menghembuskan napas terakhir. Ada teman saya yang harus bedrest 3 bulan, Alhamdulillah waktu saya di rumah sakit pun hanya 3 malam, Rabu malam masuk dan Sabtu sudah disuruh pulang. Saya hanya tidak bisa lari dalam waktu dua bulan (Insya Allah, harus yakin bisa sembuh dua bulan).

Saya memang sedang hobi lari sekarang, sikh, jadi berhenti dulu sementara. Saya juga mulai mengatur makan, meninggalkan kopi kesukaan saya, makan telur dengan kuningnya, makan tomat direbus, makan brokoli sepiring, dan minum susu (haiyaa). Pagi-pagi makan brokoli dan telur sambil membayangkan indomie pedas 😄, atau makan sereal dengan susu dan buah, sambil membayangkan sate padang. Saya memang menjaga makan sekali sekarang, malah kalau di kantor, InsyaAllah saya puasa, stop coklat, bayam, teh hijau, gorengan, ayam, pisang, es krim, air es, susu kedelai, anggur, yang katanya menghambat penyerapan kalsium dan proses penyembuhan patah tulang (Lebay, tapi saya ingin segera pulih atas kehendak Allah tentunya). How are you coffee, I miss you deadly.

Saya juga baru 3 hari pindah ke posisi baru yang lama. Posisi ini memang sangat membutuhkan mobilitas tinggi, saya jadi gak enak sama Pak Bos, yang ngambil saya untuk lari, jadinya malah menghambat Beliau. I don’t know what will happen next, tapi ya mungkin memang bukan rejekinya…

Kalau kata orang, sakit itu penggugur dosa, ya mungkin, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini….

Yang jelas, saya belajar banyak, saya sabar dan iklas, waktu yang biasanya terasa cepat berlalu, menjadi lama hanya untuk menghitung 2mg-4 mg dst. But, at least i got my sleeping mode on again, ada loh masa yang saya hanya bisa tidur 3 jam.

Oh iya, sejujurnya saya memang sangat introvert, saya tidak memberi tahu siapapun, walaupun pada tahu juga akhirnya. Abisnya gimana, saya adalah orang yang terbiasa pulang pergi naik ojek, ehhh, jatuhnya malah di lobby yang seemprit. Alhamdulillah, bukan kecelakaan parah yaa…

Alhamdulillah ya Allah, saya masih diberi kesempatan menerima ujianmu. La hawla wala quwwata illa billah.

Mungkin ini quote yang tepat saat ini, karena kalau dilihat jatuhnya saya hanya dari teras 20cm, namun saya memang pake heels (oh iya, sekarang saya juga lagi bye-bye heels, dan menerima lungsuran flat baru)

Conversation with God
Conversation with God

Bon Jovi was in Jakarta

It’s my life It’s now or never

I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive

My heart is like an open highway

Like Frankie said

I did it my way

I just wanna live while I’m alive

It’s my life



Ikutan review ah, senengnya ya metode penjualan tiketnya gak pake ribet, gak pake nuker2x. Melakukan pembayaran via on-line, dan tiket dengan barcode  langsung dikirimkan ke email kita. Mengenai konsernya sendiri, jujur saja, suara Om Jon memang sudah tidak terlalu sebaik dulu, teriakannya juga gak kenceng, napas pendek, dan tata lampu serta screen yang menurut saya biasa, dibandingin One Direction yang keceh (maklum, konser terakhir yang saya tonton itu)…Dan saya sempat mengantuk di beberapa lagu awal yang bukan saya banget… 😀.

Nonton Bon Jovi bukan hanya sekedar pencarian kualitas dia dibandingkan 20 tahun lalu yang saya tonton di Ancol dengan harga tiket Rp 45.000,- Beyond that, it brought memories… Yup memories lagu-lagu Om Jon yang mewarnai hari-hari saya dulu, i play my part and you play your game, give love a bad name, oh-oh Living on The Prayer … Take my hand, and we’ll make it, I swear (Masih humming 😆). Walaupun, Never Say Good Bye dan Always gak dinyanyiin (ihiks). Tapi,  keriaan saya dan temen2x saya sudah dimulai dari  pesen kaos bareng (tapi malah gak sempet photo bareng), sampe loncatloncat pas lagu lawas diputer.


 Jadi, saya memang tdk berharap segarang 20 tahun lalu, wong waktu mau beli tiketnya, temen saya sempet becanda: “Ayo nonton, kalau ngikutin siklusnya, ya 20 tahun lagi dia gak akan buat konser lagi”  (ya, eyalah, secara udah 70 tahun nanti)

The memory was my main point, kalau boleh, ngambil katakatanya Om Jon…

when you have a song, that becomes  part of people’s lives, forever marking memories…

Thank you Om Jon and the Gank, you made my day


Rejeki….

Masih dari cerita edisi #gathering,  tempat saya bekerja itu..orangnya nanonano banget, istilahnya yang diurusin from strategic tissue to strategic issue.  Alkisah, salah satu puncak acara  adalah door prize…

Nah, sebagai “ibu suri”, saya pun berkeinginan agar doorprize ini jatuh ke orang yang tepat. Caranya disiapin dua fish bowl, jadi kalau saya mau ambil hadiah hiburan, saya ambil dari fish bowl A, tapi kalau hadiah grand dari yang B. Toh, orang gak akan ngeh ada 2 fish bowl dan saya kan yang mandu acara…

Di saat2x terakhir, request saya persempit lagi, saya memisahkan lagi kompartemen para dewa, bukannya apa-apa, mengetahui kegelimangan rejeki para dewa, sudah tentu personel mereka juga kecipratan (istilah isengnya yang dbawa pulang mereka jauh dari orang lain setingkat, pastinya). Sempet sih ada yang nanya vvip no 1 aja atau sampai orang 6? Semuanya atau bagaimana? Jawaban saya: SEMUA….

Nah, tepat 1 jam sebelum acara, ditemukan dua nama yg sama, dikira tim door prize, keketik dua nama karena kecapean, jadi dicoret..dan hampir dibuang.  Pas mau go-show, ditemukan  Nama sama itu, ternyata emang beda orang, namun yang satunya bagian dari vvip. Seharusnya satu masuk fish bowl A dan satunya fish bowl B. Hanya karena riweuh banget, temen saya sempet nanya, eh, bener gak ya masukinnya…Haiya, akhirnya ada yang nyeletuk, sudahlah kalau memang rejekinya, gak akan kemana…

Dan bener aja, ternyata sang pemenang motor Honda Revo itu memang… yang namanya tadinya sudah dicoret dan hampir dibuang…Masya Allah, rejeki emang gak akan kemana, kalau emang udah buat dia, pastinya ya Allah akan membukakan jalanNya, Amin, Allahumma Amin. God speed…

Seneng deh kalau hadiahnya memang jatuh ke orang yang tepat ❤️❤️❤️. Ini photo Pak Supir yang menang motor, katanya malam itu, dia sampai gak bisa tidur, sibuk telponin Istrinya dan bawahnya penampilan wilayah kerja terbaik….


Memenuhi UndanganNya

IMG_1819Waw, ini postingan yang tertinggal 4 bulan 🙂 Hanya sekedar berbagi pengalaman umrah ya, mulai dari persiapan dan highlight dari persiapan saya yang lucu banget, adalah ketika minta ijin….

Di Manokwari, ketika makan malam second liners (biasa posisi warga kelas dua di luar ruangan utama, ditemani angin sepoisepoi, tanpa AC, saya meminta ijin kepada Pak Bos, eh Pak Bos ini sekarang calon orang penting…)
Saya: Pak, saya mau cuti ya akhir tahun
Pak Bos: hah… ?!? (maklum saya belum 3 bulan di Departemen tersebut, masak udah cuti lagi)
Saya: iya Pak, saya mau umrah. Sengaja kok pas tanggal 25, kan udah banyak libur. Jadi, saya cutinya hanya 4 hari
Pak Bos: oh, ya sudah, didata ya Fen, karena schedule kita padat di akhir tahun
Saya: siap, Pak
Pak Bos: umrah kemana?
Saya: *bengong* dalam hati: bisa ya Pak, umrah ke Paris (dan sampai sekarang pertanyaan Pak Bos gak saya jawab)
-> tapi mungkin ya, karena tipe saya yang masih diragukan, hahaha
Baiklah, mungkin kalau direfleksikan, kata Pak Ustadz, ada dua golongan orang yang memenuhi panggilannya, “yang (pertama) adalah yang memang sudah mampu dan siap untuk berangkat” dan “yang (kedua) adalah yang memaksakan diri memenuhi panggilanNya.” Saya termasuk golongan yang kedua, hihihi. Yang jelas dari kepastian mau umrah sampai berangkat gak nyampai sebulan. Saya juga nggak tahu kenapa, melabuhkan diri dengan berangkat di 2014, tapi semua memang dilancarkan banget. Padahal, Mr. Suami sempat ragu dan sempat berpikir, mending bayar DP naik haji atau umrah. Saya bilang, sudahlah naik haji 6-7 tahun lagi (katanya itu waktu menunggu setelah kita daftar untuk ONH Plus, kebayang kan yang Haji Biasa, Mr. Suami juga sempat bertanya keyakinan saya, hihihi, dan saya jawab YAKIN :))
Nah ini, tips penting yang pertama, adalah memilih biro perjalanan. Saya memang termasuk kaum hedon, ada beberapa persyaratan, mulai dari hotel, pengalaman temen, dan tanggal keberangkatan (kan pengen tahun baruan di Mekkah #uhuyyyy). Saran saya, pilih yang Madinah duluan, baik yang direct flightatau yanglewat Jeddah. Jadi,  kita punya waktu istirahat di Madinah selama berapa hari, dan miqat-nya pun tidak di pesawat, lebih khusyulah. Oh iya, dari hotel2x yang ditawarkan oleh biro, saya browsing ke tripadvisor atau Agoda loh…., niat ya…Karena ini pengalaman pertama, jadi saya ingin sesuatu yang menyenangkan, dan bener-bener nyaman.
Dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Tazkia (travel atas saran dari Ibu-Ibu Berlian) bukan promosi ya, tapi pelayanannya bagus, dan kita didampingi oleh Pak Ustadz, hotel deket banget sama Nabawi atau Kabah, dan makanannya enak juga, disamping itu ada tanggal yang saya mau :). … Alhamdulillah juga, pas berangkat saya diupgrade ke business class, berasa pejabat….:P
Contoh Baju Umrah Langsung dengan Kepala
Contoh Baju Umrah Langsung

Tips kedua, adalah pakaian, nah penasihat mode saya pertama itu Ibu saya yang ternyata sangat gak updates sama kondisi saat ini, menyarankan saya pake daster, atau baju2x yang dijual di paket Umrah, yang menurut saya ternyata gak banget. Untung, Ibu Berlian meminjamkan bajunya pada saya, jadi saya nggak  saltum. Sebenernya, untuk Umrahnya kita memang lebih afdol pake baju putih yang membuat nyaman untuk bergerak, tapi di luar kegiatan Umrah  banyak banget baju2x Thamrin City yang menghiasi Mekkah dan Madinah. Intinya baju muslim yang loss, namun dengan warna pastel tetap manis kok, dan ternyata kalau berburu sekarang harganya juga sangat terjangkau :). Oh iya, untuk tawaf wada (tawaf perpisahan) disarankan pake baju terbaik kita, malah kalau bisa baju baru. Karena kita mau pamit sama Allah, kita berharap bisa dipanggil lagi diundang lagi jadi tamu Allah, jd harus pamit dgn baik.

 

contoh kaos kaki wudhu
contoh kaos kaki untuk berwudhu
Jangan lupa ya, pake kaos kaki yang untuk berwudhu, yang bisa digulung depannya, ini praktis banget dan cukup membuat orang2x sana terbengong2x. Bawa sendal jepit, manset, juga daleman putih dan hitam. Karena umumnya baju muslimnya dari bahan satin yang menerawang, jadi pake daleman sangat membantu. Oh iya, dalemannya yang full body dan yang bahannya agak tebel tapi nyaman, sekitar Rp 100.000-an kok. Biasanya kita sholat hanya dengan baju yang kita pakai, karena sudah tertutup, tapi saya kurang afdol, jadi tetep pake mukena/bergo lebar. Penting banget, jangan beli barang yang gak perlu, kalau kita ke toko perlengkapan umrah suka ditawarin beli kaos dalam yang ada kantongnya, padahal mah gak kepake. Satu lagi, bawa tas selempang seperti tas doraemon itu, jadi semua bisa masuk, biasanya sih dikasih dari Biro-nya kita ya…
Itu sekedar tips-nya, mudah2xan membantu, nanti saya akan tulis kegiatan hariannya…Bukan maksudnya sok-wise, tapi bener deh, kalau sudah ada niat, walaupun sedikit, mendingan dijalanin….karena Allah pasti memberikan kemudahan…

The Unseen Singapore

Willing Heart
Willing Heart

What comes to your mind when talking about Singaporeans? To me, the adjectives “wealthy” and “prosperous.” This particular thought was spurred up when a group of friend-classmates invited our class to wake up early one morning—at 6:30 sharp!—to cook at Willing Hearts. What? Cooking?I went along with them anyway. I went with them to a building, which looked more like a warehouse, and went into a place with the signage “Willing Hearts Soup Kitchen.” Inside, people had already started working.

Cucumber Peeler They were preparing the food, hot meals for 3500—yes! — Families in need. Are there really needy in this rich country? There were quite a number of us and we were divided into groups: some were assigned to the cooking preparation, some to cook, some packing and some to delivery. I was assigned to the preparation area and my job was peeling cucumbers. I am a little ashamed, but this is so true: this was my first time to see and use a cucumber peeler. (I think, I am going to buy one for my house). Some of my friends cooked and the rest, packed.

Who needs this food? How are we going to deliver them? Is Willing Heart sure that there are people who need this? I was asking these questions the entire time I was peeling. I did not notice the time until a friend, at 10:00 o’clock, asked me to join her in delivering the food. Voila, just the moment I’ve waited for! There were several distribution areas and the area assigned to my friend and me was in Yishun. We first came to a church where a middle-age woman waited for the Willing Heart delivery. We arrived next in an HDB area, called a woman who later came to meet us. Judging from her appearance, she seemed to be from the low income population. She said that the people who needed the food would come soon and she was right. As we were leaving, we saw a group of grandmas sitting and beginning to have the meal.

Woa, they were waiting for our delivery!

The HDB that we went to next looked good. There, we went to the 7th floor and rang a doorbell. A woman greeted us. She was wearing shorts, shirt and socks. She thanked us profusely for our delivery was just in time for her to drink her medicine on time. The woman was about 50years old and orphan. The government had provided her this shelter in this HDB. We had quite a nice chat and I was particularly touched to have received her “thank you.”

The last place that we went to was also an HDB and, for the first time in Singapore, I felt uncomfortable. When we arrived, a lot of people loitered on the ground floor, sitting and chatting. They were smoking. Their eyes were opaque and sad and they looked at us in a peculiar way. This was my first time to have this kind of experience and to see an “unseen” Singapore.

Finally, we went home.

There have been lessons learned from this “unseen” Singapore. First, even though the government provides Singaporeans with shelter, not like in my country, there are still needs to fill. Second, it was really nice to have someone say “thank you” to me only because they had their meals on-time. One grandma even gave me a blessing: “God bless you, abundantly!” I feel lucky to have this new experience. It is great to make a difference in less than a day and have a mind opened to see an “unseen” in Singapore. The food delivered was cheaper than our regular food, but the “thank-you” was beyond worthy.

jatuh cinta pada pandangan pertama

seru kan...Postingan ini muncul karena ada dua orang yang berulang tahun sama, grup WA rame, facebook juga penuh ucapan selamat, saya jadi mendadak kangen somay BosTon (salah fokus…, hehehehe). Emang deh unit tempat saya dulu bekerja ini lucu, ada beberapa orang yang ulang tahunnya kembar, atau malah beberapa orang yang ulang tahunnya sama.

Jadi, kebayang kan hebohnya kalau ngerayain ulang tahun kayak gimana, mulai dari somay (utss..si abang somay sampai bisa melunasi hutangnya loh, karena kita sering pesen), bakso malang sama gerobaknya, nasi pecel, dan sejuta makanan yang bikin gak kurus. Saya rasa, kadar lapar dan kesukaan terhadap makanan yang membuat grup ini kompak banget (satu lagi KAMERA)

IMG_20140115_230809Nah, kalau dulu saya membayangkan masuk ke tempat kerja pemerintahan yang penuh birokrasi, kaku, “jatuh cinta pada pandangan pertama” adalah hal yang paling tepat menggambarkan perasaan saya. Asli, jauh dari kaku banget, muda-muda, dan gaya, hehe, buat kaum hawa di grup ini, style dandan kita tumbuh bersama (maksa.com). Pemimpin boleh berganti, orangnya juga tumbuh dan berganti, tapi jangan tanya mengenai persahabatannya. Grup ini sudah bubar, tapi bukan kedekatannya. Dan juga, cara kita ngebantuin satu sama lain, ada grup media sosial dong, yang dibahas bisa apa aja, mulai nonton film sampai matriks pemilik aplikasi. Kemarin aja, ada matriks yang dilaunch dan ternyata ada yang nemuin bahwa istilah yang digunakan kurang sesuai dengan peraturan yang ada, keren kan…?

Saya senang punya kesempatan menjadi bagian dari grup ini, walaupun mungkin dulu kehadiran kami kurang berarti ke institusi, tapi sepertiya ya..karena sering ditekan (malah kita jadi kompak, hehehe…loh…). Grup ini mengajarkan bahwa persahabatan gak lekang oleh waktu, jabatan dan tempat. Sekarang orang-orangnya udah dimana-mana kali, tapi setiap ada yang promosi pasti kita syukuran atau ya makan-makan lagi. Yang jelas dengan mereka…. saya menyadari arti “persahabatan” yang sesungguhnya, great friends when they can not pull you up, they won’t let you down. Selamat ulang tahun ya buat yang ulang tahun hari ini, SALAM SOMAY…