Horeee… Jakarta Punya MRT (2019)

Setelah sekian lama rame dibahas di WA Group , akhirnya…20 April kemarin, kami dapat kesempatan juga buat ngunjungin MRT Site, yang katanya 16m di bawah tanah..Awalnya ragu, mau ikutan apa nggak, tapi karena siang hari dan hanya 2,5 jam…apalagi pas ada teaser kalau kita akan jadi rombongan pertama pasca pemilihan Gub DKI (membuktikan, siapapun Gub-nya, proyek pembangunan Insya Allah berjalan lancar); ada teaser lagi… siap-siap dada berdegup kencang, saking bangganya Jakarta akan punya MRT… Baiklah, kayaknya kesempatan ini gak mungkin saya lewatkan … To some reason meeting this bunch of people always brings positive energy

Dan…., here we are…meeting point kita di lobby Menara Nusantara, a nice chit chat and a good coffee are always great companion (sumpah, kopi di lobby Menara Nusantara itu enak banget…., hmmmhhhh, nulisnya sambil bayangin, tengkyuh Mbak Miki traktirannya). Chit chat seru update A di B, B di C.. sampai pemilihan kuliah anak, kesuksesan TimSes OKe-OCe, dan ada yang sengaja dateng dari Manilla, memang selalu menyenangkan….

Pas jam 1.30 kita naik ke lantai 21 untuk briefing…, dan datanglah Sang Direktur Operasional, yang makasih banget udah nemenin kita sesiang itu… You Go Gung…proud to be your friend, udah dibilangin sebagian niat kedatangan gue hari itu kan bukan hanya mau lihat site MRT, tapi mau ketemu Pak Direktur juga…. Pak Direktur pun menjelaskan konsep MRT: Moving Towards Better Jakarta (sumpah dijelasin aja, udah bangga banget). Pengalaman kita semua melihat MRT di negeri Singa belasan tahun yang lalu itu, ternyata akan terwujud di Jakarta pada tahun 2019. Lama ya….? dan kita yang terakhir dari The BIG 5, ASEAN Countries yang punya MRT. Tapi ya sudahlah, akhirnya mimpi yang belasan tahun lalu hanya bisa dibayangkan sekarang akan menjadi kenyataan. (I cross my finger for this karya anak bangsa, yang gak usahlah ya diganggu-ganggu info gak penting). Proses penyiapannya sudah berjalan 60%, termasuk penyiapan SDM-nya yang mengharuskan belajar ke negeri yang udah maju dengan MRT-nya… Oh iyah…saya baru tahu, kalau PT MRT ini adalah BUMD, prosesnya berjalan sudah sangat lama, tapi bergerak maju dan menjadi program prioritas Pemda DKI pada saat Jokowi jadi Gubernur. Proses groundbreakingnya dilakukan pada masa kepemimpinan Ahok, ketika seluruh kontrak dengan pihak kontraktor sudah ditandatangani pada tahun 2014. Tambahan info direksinya rata-rata angkatan 90-2000an dengan sebagian pekerja adalah Gen Millenials, can you imagine!!!

Selesai briefing singkat, kita menuju ke… site MRT-nya…caranya naik ke Jembatan Penyebrangan persis di depan Menara Nusantara, dan di tengahnya belok ke kanan untuk menuju site di kedalaman 16m. Di site ini kita harus ganti sepatu, pake rompi dan pake topi pengaman… Dan proses eksplorasi site MRT ini pun dimulai…, siap-siap turun tangga ya, dan nanti naik tangga lagi :P:

Panas gak di bawah tanah…? Banget, tapi saya gak sesek napas, mungkin karena saya terlalu bangga kalau Jakarta akan punya MRT… Menyaksikan proses penyiapannya di dalam tunnel membuat saya yakin mimpi ini akan segera menjadi kenyataan.

Saat ini kolaborasi dengan berbagai mitra juga sudah mulai dijalankan, salah satunya dengan PLN untuk menjamin pasokan listrik, dengan penyedia layanan seluler, biar gak mati gaya kalau di terowongan …dan even dengan mall sekitaran, wihhh nanti kayak di Scott Road, Kakak. Uts…, jangan salah nama-nama untuk di tiap stasiun juga menjadi bagian dari skema kerjasama…. (pengen namanya jadi salah satu stasiun…, kontak PT MRT ya, hehehe). Saya juga titip pesan,…nanti pembayarannya Non Tunai ya(utss…iyah katanya, tapi mau pake standar yang cepat….)

Let the pictures talk….sebagai warga negara Indonesia, saya bangga dan berharap mimpi kita semua akan terwujud…untuk yang terlibat dalam proses ini…. I pray for your success and health, selamat telah menjadi bagian dari sebuah sejarah!!!

There is no greater reward, than working from your heart, and making a difference in the world (Santana)

The Unseen Singapore

Willing Heart
Willing Heart

What comes to your mind when talking about Singaporeans? To me, the adjectives “wealthy” and “prosperous.” This particular thought was spurred up when a group of friend-classmates invited our class to wake up early one morning—at 6:30 sharp!—to cook at Willing Hearts. What? Cooking?I went along with them anyway. I went with them to a building, which looked more like a warehouse, and went into a place with the signage “Willing Hearts Soup Kitchen.” Inside, people had already started working.

Cucumber Peeler They were preparing the food, hot meals for 3500—yes! — Families in need. Are there really needy in this rich country? There were quite a number of us and we were divided into groups: some were assigned to the cooking preparation, some to cook, some packing and some to delivery. I was assigned to the preparation area and my job was peeling cucumbers. I am a little ashamed, but this is so true: this was my first time to see and use a cucumber peeler. (I think, I am going to buy one for my house). Some of my friends cooked and the rest, packed.

Who needs this food? How are we going to deliver them? Is Willing Heart sure that there are people who need this? I was asking these questions the entire time I was peeling. I did not notice the time until a friend, at 10:00 o’clock, asked me to join her in delivering the food. Voila, just the moment I’ve waited for! There were several distribution areas and the area assigned to my friend and me was in Yishun. We first came to a church where a middle-age woman waited for the Willing Heart delivery. We arrived next in an HDB area, called a woman who later came to meet us. Judging from her appearance, she seemed to be from the low income population. She said that the people who needed the food would come soon and she was right. As we were leaving, we saw a group of grandmas sitting and beginning to have the meal.

Woa, they were waiting for our delivery!

The HDB that we went to next looked good. There, we went to the 7th floor and rang a doorbell. A woman greeted us. She was wearing shorts, shirt and socks. She thanked us profusely for our delivery was just in time for her to drink her medicine on time. The woman was about 50years old and orphan. The government had provided her this shelter in this HDB. We had quite a nice chat and I was particularly touched to have received her “thank you.”

The last place that we went to was also an HDB and, for the first time in Singapore, I felt uncomfortable. When we arrived, a lot of people loitered on the ground floor, sitting and chatting. They were smoking. Their eyes were opaque and sad and they looked at us in a peculiar way. This was my first time to have this kind of experience and to see an “unseen” Singapore.

Finally, we went home.

There have been lessons learned from this “unseen” Singapore. First, even though the government provides Singaporeans with shelter, not like in my country, there are still needs to fill. Second, it was really nice to have someone say “thank you” to me only because they had their meals on-time. One grandma even gave me a blessing: “God bless you, abundantly!” I feel lucky to have this new experience. It is great to make a difference in less than a day and have a mind opened to see an “unseen” in Singapore. The food delivered was cheaper than our regular food, but the “thank-you” was beyond worthy.

postingan gak penting

Screen Shot 2014-02-16 at 12.21.16 pm

Ini postingan emang nggak penting sangat, hanya karena ada dua case studies yang akan dibahas besok, dan juga ada assignment yang duenya besok juga. Belum lagi reading material buat besok juga. Ditambah kerjaan yang belum tersentuh sama sekali, kenapa….?

Karena madam satu ini adalah madam yang adrenalinnya baru akan berfungsi dengan baik kalau sudah tenggat waktu terakhir. Hehehe, tapi mayan sih, yang assignment itu udah setengahnya, dua studi kasus juga udah saya baca, tinggal memperlancar biasanya. Tapi, saya belum puas sama tugas saya, masih perlu sentuhan lagi. Halahhhh. Anyway, I like case studies, kayaknya yang membedakan sama sekolah saya dulu, hehehe. Dan kalau udah biasa sama case study dari Harvard, case study lainnya berasa kering banget. Lalu…? saya juga ikutan buat case study loh, ituh pemisahan fungsi pengawasan Bank di Indonesia. Udah ah, postingan ini sangat tidak penting. Have a nice Sunday everyone, and have nice reading and assignment for my self. Semangat’45 harus membara, saya harus menghibur diri dengan Mc Donalds. Loh….salah ya, hehehehe…, padahal lagi pengen banget makan Mexican Food….yah sudah nachos fillet o fish is fine..

mengelola …

 

Stress-Management-Pic-201x300Postingan ini mulai, ketika awalnya di kantin kemarin, teman saya dari ekonomi raksasa di Asia Timur…mendekati saya dan ngajak minum kopi bareng, terus dia bilang, “saya sedang bertensi tinggi nih, kamu lagi apa? Saya: “sedang belajar econ (eaaaaa).” Dia bilang,”kok kamu nggak pernah keliatan stres sih, sepertinya kamu bisa menghandle semuanya.” Saya tersenyum dan bilang,”kamu nggak tahu aja.” Malamnya, temen saya dari salah satu negara Afsel datang ke unit saya dan kita membicarakan perilaku salah seorang teman yang sudah sangat tidak menyenangkan dan tidak hanya di satu kuliah saja.

Di sini sudah ada temen saya yang kembali ke negaranya karena depresi. Pastinya, di minggu2x terakhir ini, ketika sebagian nilai sudah dibagikan dan saat menunggu ujian dimulai, semua pada tegangan tinggi dan sumbu pendek. Buat yang gak punya ujian, nilai sudah dibagikan, artinya mereka sudah tahu nilai akhirnya. Buat seperti saya, yang memilih ujian, artinya saya masih menggantungkan harapan dengan ujian itu, dan amin, saya ikut ujian, karena menggantungkan nilai dari paper saja buat yang Inggris bukan native, sungguh sangat berat.

Kembali ke masalah mengelola lima huruf itu…., saya juga mengalaminya, haiyaaa. Saya ditegur dan dibilang plagiarize hanya karena saya gak pake tanda kutip. Hadeuhhhhh…padahal saya cite resourcenya. Tanda kutip yang membawa maksiat. Makanya, saya sebel sama orang yang tidak memenuhi tenggat waktu. Heuhhhh, kita udah gak tidur dan gak mandi dua hari dua malem,  deadline udah diumumin dari kapan tahun, masih aja ada yang coba nego sama dosennya.. Halllloooooo, saya juga tipe last minutes person, tapi saya komit untuk menyerahkan hasilnya on-time, walaupun kalau deadline jam 11.59, ya kemarin saya gunakan batas maksimal 11.55 (hehehe, 5 menit berharga untuk cuman benerin koma dan titik koma).-itu aja masih ada yang miss #do’a

Tapi kemudian saya berpikir kalo saya terus pada situasi terpuruk malah gak produktif kan, jadi…saya coba mendulang emas dari tempat lain. Nah, satu hal yang saya temukan sangat obvious dan kalau saya lanjut sekolah  saya sampe udah nemu topiknya 🙂 Pengaruh job security terhadap jiwa kompetitif + perilaku stres….At the end, grup saya ini adalah 39 orang dengan tingkatan mid level career (meskipun ada yang resign dr tempat kerjanya, mereka masih bisa kembali). Nah, situasi job security ini ternyata emang ngaruh banget…., karena kalau kita udah mati2x-an dan hasilnya kurang sesuai dengan mati2xan itu, kita semua liat2xan dan saling berkata, “Ah, setidaknya begitu program ini selesai, kita pulang dan masih bisa duduk di meja masing2x. Demikian juga saya, yang sudah ngetek tempat di departemen tiga huruf itu, dan toh masa saya ke jenjang berikutnya masih 3 tahun lagi, itu juga kalau lancar :). Ternyata buat yang  tidak/belum bekerja, situasi ini sangat berpengaruh membawa ke perilaku stres yang lebih tinggi.

Jadi kalau dibilang saya nggak stres? Salah besar…..semua orang pasti pada posisi yang sama, hanya bergantung pada bagaimana mengelolanya dan yang terpenting bagaimana mengelola harapan, be realistic (ekspektasi tinggi yang kadang buat jatuhnya lebih sakit….)

Don’t aim for the result, enjoy the learning moment…..Take time to appreciate every day, because years will be gone before you know it. 

Mandi dulu yaa…. (ups, artinya :P)

kirim-kirim uang…

Masih inget cerita saya mengenai Happy Smiling Faces kan…? Nah, setelah ngobrol2x lagi…, saya tanya berapa kali dia kirim uang ke Philippines, jawabannya: sering dan gak tentu. Kenapa…? karena murah dan gampang, kalau Bapak saya butuh saya kirim, istilahnya on-call basis. Dia menghindari untuk kirim uang dalam jumlah besar sekaligus karena dia nggak pengen keluarganya disana jadi konsumtif. Oops, alasan yang masuk akal ya….Tambahan lagi keluarganya bisa melakukan cash-out dimana saja, bisa di convie store, di ATM, intinya cepat dan mudah….

remittance di lucky plazaDan…pasti tahu dong…Lucky Plaza di Orchard, saya gak pernah ngeh awalnya, tapi pas saya lihat  antrian orang bagaikan ular tidak hanya di akhir pekan, tapi juga di hari biasa., saya jadi penasaran ngapain ya mereka? Dengan lambang tempat yang semuanya tertulis remittance, yuppp  …ternyata mereka semua mau kirim uang…Nama agent-nya semua berbau tagalog, ada Mabuhay, Kabayan, Bruphil dan banyak lagi. Uniknya…, semua menawarkan harga yang fix, rata-rata 4SGD untuk sekali pengiriman berapa besarpun uang yang dikirimkan. Kalau Anda berkesempatan ke Lucky Plaza, uih lihat dehseru

Malahan salah satu operator seluler di Singapore, juga sudah bekerja sama dengan G-Cash. jadi bisa kirim uang via mobile phone yang lintas negara. Rata-rata keunggulan yang ditawarkan adalah cepat, murah dan bisa cash out dimana saja di Philippines. Oh-iya lambang agen cash-out apa saja yang ada di Philippines juga dipasang di layanan mereka kayak di pict saya ini..

Lalu bagaimana dengan TKI kita? Nah, karena saya dapet “tugas” kirim uang ke Jakarta via jasa pengiriman uang, jadi saya ngubeklah si Lucky Plaza. Pertama, saya ke tempat Bank berlogo perahu dan mereka bilang butuh waktu satu hari, dan harus ada bank account si penerima dengan harga yang kebih mahal dari 4SGD. Lalu, saya browsing jasa pengiriman uang terkenal itu, oh ternyata di BKK dan Bruphil bisa kirim uang ke Indonesia. Sampailah saya disana, dan langsung ungkapan pertamaI can’t speak Tagalog, I can speak English #lapkeringat.

Dan di tengah antrian panjang sampai mau pingsan, saya akhirnya dapat giliran, ternyata kirim uang ke Indonesia 10SGD saja (uhukkk, katanya  we charge you more to send to Indonesia)…Di tengah keramaian, akhirnya saya ngerti kenapa si Mbak lebih sering bawa cash daripada transfer….

Happy Smiling Faces

Walaupun status saya sekarang mahasiswa, tapi nuansa emak2x yang biasa hidup seharihari dengan bantuan PRT, tetep gak bisa dilepas, hahaha. Jadi, disini saya pun dibantu oleh part-time PRT yang datang 2 minggu sekali untuk bebersih dengan tarif S$12/jam. Setiap datang, total waktu yang dibutuhkan 2-3 jam. Jadi sekali datang mereka dapat 250.000 lah, lumayan kan…. Menariknya mereka ini bekerja full time sebagai PRT dan memanfaatkan waktu libur mereka Sabtu-Minggu untuk melakukan kerja part-time ini…. (Thumbs up)
Gak usah disebut, pasti udah tahu kan dari negara mana mereka berasal, negara tetangga yang sekarang sedang ngetop-ngetopnya dengan kisah sukses remittance dan mobile financial services. Saya pernah baca di satu artikel, men-eksport warga negara mereka menjadi tenaga kerja di negara lain, memang menjadi komoditas besar saat ini, karena “happy smiling faces”, warmth personality, dan tentunya bahasa. Pernah punya teman Pinoys? I guess you agree with me, they party behavior always make the day is cheerful…walaupun temen saya bilang, karena sang Ibu banyak  bekerja di LN, jadinya banyak anak2x yang sekarang tidak mendapatkan kasih sayang Ibunya, ups…kita lihat apa yang akan terjadi 20 tahun lagi, karena sentuhan Ibu banyak berpengaruh pada kepribadian kan

Menarik ngobrol sama mereka, dan saya kagum sama kerja kerasnya. Ups, cara mereka berpakaian juga…aih, Inem Pelayan Sexy kalah…Alkisah, rata-rata mereka sudah bekerja di Singapore lebih dari 10 tahun,  dengan gaji 500-700 S$ (gak besar ya). Kerja mereka juga cepet dan kami puas. Alkisah namanya E, berumur 37 tahun dan saat ini menjadi single parent. Anak perempuannya berumur 17 tahun, dan sudah di college. Dia bekerja full time sebagai PRT, tapi memanfaatkan waktu malamnya untuk kerja part-time seperti ini. Jadi, kerjaan dia selesai jam 5 dan kemudian jam 7 dia ke-rumah-rumah kita mahluk yang kurang suka bebersih ini. Gajinya di bawah kontrak kerjanya, karena dia mengerti
bahwa majikannya bukan orang dari kalangan atas banget, tapi dia dikasih kebebasan,  sehingga dia bisa part time job dimana-mana.Dia bilang: it’s okay, I now I am not paid well, but at least they give me flexible working hour, that make me happy… (hahaha, those happy smiling faces looking for happy time as well, there’s something that money can’t buy). Saya bandingkan sama PRT di Indon, hadeuhhh udah dikasih lebih dari tetangga sebelah juga tetep ya…, that is why they don’t have happy smiling faces..

Ini cara mereka bekerja, seru kan, aihhh 🙂 (tunggu postingan saya mengenai cara mereka mengirim uang yait’s another unique story, and I understand now, why remittance is being taken care very well)

Image

mengambil risiko

Don’t listen to those who say ‘you are taking too big  chance.’ Michelangelo would have painted the Sistine floor, and it would surely be rubbed out by today. I firmly believe that if you follow a path that interests you, with the strength of conviction that you can move others by your own efforts—and do not make success or failure the criteria by which you live—the chances are you’ll be a person worthy of your own respects. – Neil Simon

Menyambung posting saya sebelumnya…, banyak yang mempertanyakan kenapa saya mau ambil risiko ketika saya pergi sekolah… Alhamdulillah saya dapat fasilitas dari sekolah saya, tapi untuk urusan dengan kantor saya sendiri bukan hal yang mudah. Banyak hal yang tidak seindah teman2x lain yang mendapatkan kesempatan sekolah LN :). Tapi ya sudahlah…. (lima bulan yang ternyata sangat menentukan)

Berbicara mengenai risiko, saya tahu banyak risiko yang saya ambil, tapi kesempatan kan tidak datang dua kali ya..Kesempatan yang diberikan NUS juga tidak bisa ditunda sampai tahun depan, dan saat itu…saya sudah pada titik kulminasi tertinggi, bahwa saya harus pergi dan sekolah (alasannya kenapa, nggak bisa saya tulis 🙂 )

Dan kemudian, ketika saya disini dan mingle dengan beberapa teman, saya harus angkat topi buat mereka. Yang saya tulis adalah beberapa yang menonjol, dan kejadian sejenis ternyata banyak. Ada teman saya dari negara dengan ekonomi terbesar di Asia Selatan, dan mendapatkan scheme beasiswa yang sama dengan saya,  dia cerita bahwa dia terpaksa resign dari kantornya, karena kantornya tidak memberikan dia ijin sekolah sampai hari       terakhir dia harus pergi. Suami dengan satu anak, dan saya bilang sama dia: aihhh, kalau saya jadi kamu saya tidak mau berkorban sebegitu besarnya. Kebayang kan bagaimana dia menghidupi keluarganya…

Ada teman saya lagi, wanita, dari Asia Timur, dia pegawai negeri, dan dia juga bilang bahwa dia harus resign, karena di negara dia, tidak biasa untuk pegawai negeri melanjutkan studi S2. Saya: ups….Malam ini ketika barbeque nite, saya ngobrol dengan sesama teman dari bank sentral dari negara lain, dan istrinya baru saja resign karena menemani dia sekolah disini. Pertanyaan saya: kan tapi kamu selesai sekolah balik ke sana dan kerja lagi disana? . Jawaban diait might be. Dia bilang saat ini dia on-leave dan kalau ada kesempatan yang lebih baik kenapa tidak.

Saya belajar banyak dari mereka, bahwa ketika kita sudah tau apa jalan yang akan kita ambil, dan yakinrisiko apapun harus kita jalani, unless you choose to do great things with it, it makes no difference how much you are rewarded, or how much power you have. – Oprah Winfrey