Selamat Memilih Indonesia

Saya, mungkin juga seperti kebanyakan orang, bingung mau pilih siapa untuk pemilihan legislatif nanti.
Jujur saja, selama 1,5 tahun lalu bolak balik gedung kuning membuat saya “enek” melihat tingkah laku mereka. Ada yang marah-marah tapi manis di belakang, asal kalo ada perjalanan dinas atau workshop, hahaups…jangan diboikot ya…
Tapi saya pikir ini sudah menjadi rahasia umum, ada temen saya di daerah barat Indonesia yang selalu bete karena akhir pekannya sering terganggu dengan kedatangan si wakil rakyat.

Lalu, akankah saya memilih nanti? Jawabnya, IYA… (gak kapok, Fen…?) Walaupun terus terang saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih, gak ada waktu buat liat daftar nama caleg di tengah akhir semester yang tugas dan reading materials udah kayak tumpukan setrikaan.
Tapi, saya akan memilih, setidaknya saya tidak rela membiarkan satu suara saya menjadi suara golput yang malah menguntungkan pihak lain. Seperti yang terjadi di tahun 2014? Golput yang jadi pemenangnya.
Terus, saya sedang menikmati proses partisipasi publik yang saat ini terjadi, saya memang dengan bangga menyatakan diri saya pendukung Ridwan Kamil, ups situ nggak bangga punya walikota yang bisa bahasa enggreis dan lulusan Berkeley (asli loh), atau saya pendukung Bu Risma, dan saya bangga dengan beberapa walikota terpilih dari Makassar, Bogor yang masih muda dan bergaya. Setidaknya masih ada harapan untuk Indonesia di tangan mereka, dan mereka dipilih karena publik memilih.Saya iseng berpikir kalau saya milih Gubernur Banten kemarin, mungkin si gubernur yang sedang kasus korupsi tidak akan terpilih (hahahaha, mimpi kali ya). Jadi suara saya dan suara Anda sangat menentukan….

Buat saya, nanti saya mau milih Presiden yang merevisi jumlah hari libur (edunnn, ini negara liburnya banyak banget, haha) mending dikonversi ke jatah cuti hamil jadi 4 bulan gitu (ups, saya kan gak mau hamil lagi ya….). Kalau si kembar saya kekeuh: Mimi, pilih … ya yang ada acaranya di TV (hahaha), tapi pas tahu DKI 1 maju mereka juga mutar haluan, love you twins.

Rasanya terlalu sayang  satu suara kita yang hanya lima tahun sekali ini, kita lewatkan dan kita memilih menjadi golput, tidak adil kita mencerca negara kita, tapi kita juga tidak mau  berpartisipasi memberikan dukungan. Buat saya, saat ini yang bisa saya lakukan adalah memberikan suara saya, jadi…ayo memilih, Selamat Memilih Indonesia, untuk Indonesia yang lebih baik. Oh diskusi hawker stall (you know who you are):

Being a leader, you don’t have to master in everything, the most important thing is you can choose a right person who is best to do things at the right position (tau kan kepada siapa dukungan suara saya :-))