Hidup itu Kompromi

Ketika wacana saya untuk sekolah merupakan kondisi yang tidak bisa ditawar, bukan apaapa, tapi di institusi tempat saya bekerja, bergelar Master hukumnya lebih tinggi dari sunah, hampir wajib mungkin. Tentunya setelah berdiskusi dengan mantan pacar, ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan.

Pertama, suami saya tidak mungkin ikut, iyalah dapat ijin dari dia aja sudah Alhamdulillah,  saya tidak mau mengganggu karir dia, dia kan pemimpin keluarga. Otomatis ini mempengaruhi pilihan sekolah saya, tentunya yang tidak jauh 🙂 dan kemungkinan besar tidak membawa anak-anak.

Dengan kondisi seperti itu,otomatis saya memilih yang dekat, dan untuk pendidikan terbaik di Asia, NUS adalah pilihan. Walaupun saya sering ditanya ngapain sih di Singapore, deuhhhhh itu kan liburan dan banyak lagi.. Dalam hati saya menjawab, lalu kenapa bukan Singapore, NUS adalah urutan sekolah nomor 8 di dunia, versi majalah Times 2013, dan sepertinya dia termasuk universitas yang diperhitungkan,  kelemahan NUS (menurut yang nanya) adalah letaknya yang hanya 1,5 jam dari Jakarta, malah justru itu satu kelebihan buat saya. Dan alasan pragmatisnya mereka menyediakan beasiswa untuk saya 🙂

Lalu, sekarang tinggal memilih course-nya. Jujur saja, kalau bicara hati, tentunya latar belakang saya sebagai sarjana psikologi dan Human Resources Analyst yang ingin saya kembangkan, tapi satu tahun terakhir ini saya sering hadir dalam rapat yang sering membuat saya bengong. Alasan saya sederhana, saya hanya ingin tahu logika berpikir dari ini semua, bukan muluk2x ingin menjadi ekonom handal. Ini ibarat metallica, hard core metal, saya gak mau bergaris keras ekonom, saya hanya ingin light, ya seperti Bon Jovi.

Sehingga saya mencari course yang ada ekonominya, tapi juga melihat dari multidiscipline, otomatis setelah lihat sana-sini, public policy adalah pilihan, belajar ekonomi juga implikasinya. Walaupun edan, saya nggak nyangka load-nya kayak gini, dan ternyata saya punya masalah sama otak saya kalau baca valuation dan hitung-hitungan antah berantah. Jika valuenya adalah minus, sedangkan delta…alamak…kebayang gak sih, bahasa Indonesia aja susah, apalagi bahasa Inggris….Kalau dulu kenal saya yang gak bisa diem, sekarang I spent most of my time by reading, and exercising…. #taraaaaaa

Jujur, saya jatuh cinta sama behavioral economics, suka aja…ketika psikologi yang sangat kualitatif dikuantitatifkan. Kebayang kan psikologi kognitif berubah menjadi Vg > Vt, maka .. 😛

Lalu, pilihan tahun juga adalah kompromi buat saya, karena keluarga gak ikut, otomatis dong, lebih cepat lebih baik. Dan ternyata yaaa…. kemampuan otak sudah sangat menipis…..,  #inget umur..

So, here I am, struggling with new things…trying to gamble my appetite with numbers….rasanya pengen lempar sepatu kalau lihat case2x membutuhkan pemikiran tinggi ini.otakku tak sampai kakak 😀

I bear many scars, but I also carry with me moments that would not have happened if I had not dared to go beyond my limits.
– Paulo Coelho

Continue reading