Academically Smart vs Street Smart


Sebenarnya saya dapat istilah ini beberapa tahun lalu, dari pentolan-pentolan Astra. Di suatu sesi, secara jelas, mereka bilang bahwa institusi kami adalah institusi yang terdiri dari orang-orang yang street smart. Mereka tumbuh dan menjadi dewasa dalam lingkungan yang menjadikan mereka memiliki kepekaan sosial dan juga kemampuan untuk berani mengambil keputusan.

Saya pun “glek”, dan akhir-akhir ini merenungkan kembali pernyataan itu. Sayangnya masyarakat kita masih terjebak dengan kultur cap akademis ini, si A lulusan universitas terbaik di dunia, dangan waktu hanya x tahun dan gelar sukma cum-laude. Saya pun…kembali merenungkan, jika saya dihadapkan pada dua pilihan antara A dan B. Si A adalah lulusan terbaik, sementara B biasa-biasa saja, namun menghabiskan waktunya untuk kehidupan berorganisasi (dalam makna positif ya), memiliki kehidupan sosial di luar lingkungan dia sebagai pelajar atau pekerja, maka tentunya saya akan menjatuhkan piihan pada si B. Bukan apa-apa, pelajaran berorganisasi dan berinteraksi adalah faktor utama pengasahan people skills. Kemampuan berkomunikasi, inisiatif, not take account from others dan yang paling penting adalah toleransi. Ada proses saling back-up, kalau X tidak bisa, maka Y akan berinisiatif menggantikan asal tujuan tercapai. Itu, sebenarnya hal penting yang tidak kita dapatkan dari jalur formal manapun. Pada sisi ini lah, saya mengerti, mengapa seorang Miranda Goeltom (terlepas statusnya sekarang sebagai terdakwa), di tengah kesibukannya sebagai DGS tetap aktif di beberapa organisasi yang bersifat ekskul.

Namun, saat ini, kemampuan dan pengalaman berorganisasi ataupun people skills cenderung diabaikan dalam proses seleksi baik rekrutmen maupun promosi, kita sering terjebak dalam rangkaian best 5 universities, S2-S3 dan embel-embel lainnya. Sayang ya…padahal itu adalah aset utama dalam bekerja sama…Saya berterima kasih, bahwa dalam berbagai kesempatan, saya diberi kesempatan berkenalan dengan orang-orang hebat yang tidak hanya academically smart tapi juga street smart (I miss those people, badly)

Posting ini saya tag ke beberapa teman yang aktif menulis dan berperan dalam pengembangan social skills, oh iya…dan dedicated buat geng lasut saya. Hehehe, saya banyak tumbuh bersama mereka menjadi orang yang punya kepekaan sosial, walaupun tetap lasut (love you all)

Smarter, wealthier, or generally people who have feelings of superiority, refuse to seek help in dealing with people.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s